Komputer Dan Wanita

 

Beberapa waktu lalu World Computer Scientist Journal
mengadakan survey thd para computer scientist ttg bagaimana cara mereka
memandang wanita, hasilnya sbb. :
1. Tipe CPU : ” Pintar, pemikir, tidak banyak bicara tapi mengerjakan banyak hal,(ngga tau apa yang dikerjakan)”
2. Tipe Monitor : ” Genit, senangnya diperhatikan, suka pamer, (padahal belum tentu yang dipamerin bagus). “
3. Tipe Keyboard : ” Senang di pegang, di tekan dan dipencet di berbagai lokasi (awas, salah tekan bisa kena jitak). “
4. Tipe Mouse : ” Pas dan enak di genggam, dingin-dingin empuk ! “
5. Tipe Windows : ” Tampak luar bagus, dalamnya penuh bugs. “
6. Tipe Linux-console : ” Tampak luar jelek, dalamnya ‘handal’. “
7. Tipe XWindows : ” Luar dalam bisa dihandalkan . . “
8. Tipe DOS : ” . . . . . wajah tidak cantik, belum tentu hatinya baik ! “
9. Tipe UNIX : ” Diam-diam, multi user : ( “
he…he…he…:D
It’s only Joke…

Humor Dulu....


Kakek Yang Tuli
Suatu hari ada seorang anak disuruh ibunya untuk membeli gula 1 kg.
Ibu: Nak, tolong belikan ibu gula satu kilo!
Anak: Iya bu!!
Dan anak itu pun pergi ke toko didekat rumah mereka. Kebetulan yang punya toko itu seorang kakek yang agak tuli, sehingga untuk berbicara harus agak keras.
Anak: KAKEK, BELI GULA 1 KILO!!!
Kakek tidak menjawab, anak itu pun teriak lebih keras lagi.
Anak: KAKEK, BELI GULA 1 KILO!!!!
Tetapi si kakek pun masih tidak menjawab. Anak itu lalu berteriak dengan suara yang paling keras.
Anak: KAKEK.. BELI GULA 1 KILO!!!!!!!!
Kakek: (Dengan sikap yang agak marah, ia menjawab) KAMU INI NGAPAIN TERIAK TERIAK??? KAMU KIRA KAKEK TULI??? MAU BELI BERAS BERAPA KILO???
Anak: ??????…..
Kapal Selam
Suatu hari di Jakarta diadakan konferensi Pabrik Kapal Sedunia. Saat senggang, perwakilan dari Jepang, Amerika & Indonesia berbincang-bincang.
Jepang : Kapal selam buatan kami bisa menyelam selama 1 jam.
Amerika : Wah, masih kalah dengan kapal selam butan negara kami yang sanggup menyelam selama 1 jam 5 menit.
Indonesia : Kayaknya paling lama kapal selam buatan Indonesia dech. Kapal selam buatan kami telah menyelam sejak tiga hari yang lalu dan sampai sekarang gak muncul-muncul…:D

Mandi Di Sungai Amazon
Suatu sore ada seorang turis yang hendak mandi di muara sungai Amazon, bertanya pada seorang anak kecil yang sedang memancing ditepi sungai tersebut. “Hey, di sungai ini tidak ada ikan Piranhanya kan?!”, tanya turis tersebut.
Kemudian si anak tersebut menjawab, “Tentu Tuan..!”.
Turis tersebut langsung meloncat ke sungai, dan dia bertanya sekali lagi kepada si anak tersebut, “Betul kan nak, tidak ada piranha disini?”.
Dengan santai si anak menjawab, “Tentu saja Tuan, sebab ikan piranhanya pada takut sama buaya-buaya disitu!”. (Sambil menunjuk sekumpulan buaya-buaya ganas didekat turis tersebut)
?????

Wanita Umpama Ikan


IKAN SALMON
Bentuknya ramping, indah, dagingnya pink muda dan enak dimakan. Tapi
sayangnya mahal, soalnya masih import.
INI WANITA KARIR…..

IKAN SAPU-SAPU
Jenis ini murah dan selalu nempel dikaca akuarium. Kalo udah nempel,
susah banget lepasnya.
INI CEWEK SMU……


IKAN LELE
Kalo yang ini harganya murah dan bisa dimakan kapan saja. Tapi hati-hati,
ada patilnya dan harus hati-hati
INI CEWEK TIDAK BAIK-BAIK… ….

IKAN ARWANA
Kalo yang ini senangnya bolak balik diakuarium memperlihatkan kesombongan
dan keangkuhan karena tau tubuhnya indah, langkahnya lemah gemulai dan
memancing mata nakal melihatnya dimanapun dia bergaya….. So pasti harganya
sangat mahal kalau ingin memilikinya, dan belum tentu yang punya kasih….
INI CEWEK PERAGAWATI DAN ARTIS SINETRON…. ….
IKAN MAS KOKI
Nah, ini juga jenis ikan lumayan mahal, indah bentuknya, warnanya, dan
lenggak- lenggoknya. Sayangnya hanya bisa dikagumi, tak bisa dimakan,
karena ikan hiasan…..
INI BINI ORANG…….
IKAN TERI
Rasanya asin, harga terjangkau, bentuk dan rasanya begitu- begituuu… saja.
Selalu enak dimakan kalau lagi tidak ada sayur atau tidak ada lauk yang
lainnya….
INI ISTRI SENDIRI….hehehe…..

He…he…he…:D
It’s Just a Joke..

Antara Kansas Dan Bogor,Ada Cinta Bersemi


Grace menatapku dengan kesal dan marah. Wajah cantiknya menyiratkan ketidakrelaan. Gadis Menado yang setahun ini jadi pacarku, tiba tiba saja merasa seperti tersengat listrik, saat aku memberitahu akan mengisi summer holiday ke Bogor.
“Bogor? You are so crazy!” Grace terbelalak. “Mau apa kesana?! Kota macet seperti itu!”
“Memangnya, kamu pernah kesana?”
“Yah, lewat sajalah! Waktu itu aku ada pesta di Puncak! Lewat kota itulah! Macetnya minta ampun!”
“Tapi, aku mesti ke Bogor!”
“Aku heran saja! Bagaimana bisa? Kalau Bali, that’s okay! But, ini Bogor! Mimpi apa kamu semalam? Apa istimewanya Bogor?”
“Aku ingin melihat negeriku, Honey.”
“Damn! Ini tidak masuk akal. Pasti ada alasan lain!”
Aku diam saja. Memang ada alasan lain. Tapi tidak akan aku beritahu dia. Bisa perang dunia keempat.
Grace gelisah. Tubuh bagian atasnya yang hanya memakai t-shirt ukuran sedada saja, sehingga kulit putihnya terlihat mencolok mata, dikipas-kipas dengan kedua tangannya. Udara bulan Juni di University of Kansas, sangat panas. Berbeda dengan panasnya di kotaku, Surabaya, yang lembab dan mudah berkeringat. Di Kansas sangat panas dan kering. Daun-daun yang mulai menguning, dua bulan lagi tinggal menunggu autum session, akan gugur menimpa areal kampus. Jika sudah musim gugur, suasana kampus akan sangat semarak dan berwarna-warni, karena itu berarti akan dipenuhi dengan beragam pakaian musim dingin. Ini yang aku suka, karena tubuh cewek kampus rata-rata terbalut busana tebal yang unik dan antik. Aku paling tidak tahan, jika pada summer time seperti sekarang ini, kemana saja mata memandang, wuaduuuh…
“Bogor..,” Grace menggelengkan kepalanya.
“Malu ‘kan, sebagai warga Indonesia, aku belom pernah ke sana!”
Beberapa mahasiswa lalu-lalang di areal Lawrence campus. Yang lelaki bule bertelanjang dada dan memakai celana bermuda. Kaos atau kemejanya diikatkan di pinggang. Beberapa ada yang menenteng skate board. Sedangkan cewek kampusnya memakai tank top. Udara kering. Panas menyengat. Aku dan Grace rebah-rebahan di rumput, di bawah pohon.
“So, kamu tetap tidak mau memberitahu alasannya, kenapa liburan ke Bogor?”
Aku menggeleng.
“Okey, jika itu maumu!” Grace bangkit dan meninggalkanku. Dave, room mate, menertawakanku. Dia juga sama, menyebut aku gila. Dave sendiri sudah punya rencana mengisi summer holiday dengan berjemur di pantai Cancun, Mexico. Kata Dave, cewek Mexico seksi-seksi kalau sudah berbikini di pantai. Apalagi jika berpesta di pantai malam-malam dengan bir dan hasis! Beberapa teman Indonesiaku malah memilih bekerja sebagai pelayan di restoran.
Papaku yang bekerja sebagai diplomat di Chicago juga merasa heran. Bukannya summer holiday diisi dengan jadi bagpacker; keliling Amerika, ini malah berlibur ke Bogor. “Kamu ini ada-ada saja, Feb! Kok, malah ke Bogor! Apa menariknya kota itu!”
Aku tersenyum. “Papa pernah ke Bogor?”
Papa melirik ke Mama. “Pernah nggak, ya?”
“Lewat saja. Sewaktu kita menghadiri seminar di Puncak. Lewat highway…Macetnya minta ampun….”
Grace juga cuma lewat dan macet juga disebutnya. Dari mama lantas meluncur gerutuan-gerutuan, bahwa biang kerok negeri kami memang kemacetan. Itulah yang selalu membuatnya urung pulang; menengok kampung leluhur di Surabaya.
Aku anak tunggal. Papa dan Mama tidak tertarik untuk memberiku adik. Mereka lebih asyik meniti karir. Papa di atase ekonomi, sedangkan Mama aktivis perempuan di mana saja dia berada. Tulisan-tulisannya tentang feminisme ala Asia mewarnai koran-koran setempat. Latar belakang ketimurannya membuat tulisan-tulisannya menarik. Aku pernah membaca tulisannya tentang emansipasi. Mama menyebut tentang sebuah nama, RA Kartini. Aku tidak tahu siapa wanita Jawa yang dijadikan istri kedua itu. Mama menulis, bahwa emansipasi pada dasarnya adalah pemberontakan kaum perempuan pada hegemoni lelaki. Tapi di Indonesia, hal itu hanyalah lip service belaka. Sekedar tren atau bahkan semu. Ah, itu bukan urusanku.
Kadang aku suka menganggap aku ini anak durhaka. Di paspor tertulis warga negara Indonesia, tapi kalau ditanya tentang kebudayaan negeriku, tak aku kuasai. Aku lahir di New Zealand. Kata Papa dan Mama, saat umurku dua tahun, pernah dibawa mereka ke tanah leluhur di Surabaya. Setelah itu, Papa lebih banyak berpindah-pindah ke negara lain sebagai diplomat. Paling lama di India, sekitar lima tahun. Aku menghabiskan masa remaja di New Delhi. Pernah pacaran dua kali dengan gadis India. Setelah itu setahun di Spanyol, Maroko, dan kini di Chicago. Aku sudah setahun di Kansas. Kuliah mengambil jurusan ekonomi. Tak ada waktu untuk pulang ke negeri leluhur. Itu mungkin karena kengerianku saja saat melihat tayangan-tayangan televisi di CNN; bom di mana-mana. Aku sudah jadi warga dunia, yang tak mengenal tanah leluhurnya; Indonesia. Papa dan Mama pernah berjanji, bahwa tahun depan akan berlibur ke Indonesia. Tapi mereka tidak tertarik menghabiskan hari tua di Indonesia. Mereka memilih suatu tempat di Italia.
***

Pesawat American Airways mengepakkan sayapnya, menembus angkasa. Pesawat nanti akan transit dulu di Dallas, lalu San Fransisco. Dari sini pindah pesawat ke Singapore Airlines. Pesawat transit lagi di Taipei, Singapura, dan tujuan terakhir Jakarta, ibu kota negeri leluhurku, yang belom pernah aku injak. Dua puluh dua jam mengambang di udara! Menyebalkan!
Dari kaca jendela, aku melihat Kansas City yang datar; ladang-ladang gandum menyebar di mana-mana. Warnanya kuning keemasan. Aku juga masih bisa melihat air mata Grace menitik di depan pintu masuk MCI – Kansas City International Airport. Aku tadi menghapus air matanya.
“Aku Cuma ke Bogor,” senyumku. “just a week!”
“Aku tahu, seseorang sedang menunggumu disana. A girl!”
“Please, jangan bersikap bodoh! Dewasalah!”
Grace tidak mengangguk. “We’ll see!” dia membalik, “Good bye!”
Aku tidak menjawab. Aku tatap dia sampai menyeberangi jalan dan menuju tempat parkir. Sampai dia masuk ke dalam mobil dan pergi. Mungkinkah ini akhir dari hubungan kami? Grace yang cantik dan manja. Dia tidak beda denganku, jadi warga dunia. Tapi, dia sering pulang berlibur ke Indonesia. Tempat yang paling dia gemari selain kampung halamannya; Menado, adalah Bali. Ke Jakarta? Grace mengacungkan dua jarinya. “ Tidak tahan macetnya!” begitu alasannya.
Burung besi terus menembus gumpalan awan-awan, menyusuri garis langit beribu-ribu mil jauhnya. Ini adalah perjalanan panjang udaraku. Indonesia, oh, Indonesia. Aku datang padamu. Kalau saja bukan karena Nicky, gadis SMA, yang sudah jadi sahabatku selama tiga bulan di internet, aku mungkin tidak akan datang ke Bogor, kota yang katanya sebagai kota satelit Jakarta.
Aku masih ingat, email terakhir yang Nicky kirim : Bogor adalah kota di mana kami bisa berbahagia. Kota hujan. Kota yang penuh dengan pohon tua dan ratusan rusa di istana. Datanglah jika kau mau. Aku akan membuat kamu mencintai negeri leluhurmu.
Ya, itulah rahasia besarku, kenapa aku sangat ingin pergi ke Bogor. Nicky, gadis itu. Papa, Mama, apalagi Grace, tidak aku beritahu soal ini. Konyol. Bahkan Dave, bule dari LA, yang mendambakan gadis Perancis dan ingin bungee jumping di menara Eiffel.
Nicky, entah kenapa aku tertarik ingin menemui gadis itu. Indonesian girl. Aku tersenyum sendiri. Sepanjang hidupku, aku baru berpacaran dengan gadis Indonesia, ya, Grace itulah. Tapi, Grace bukan gadis Indonesia asli. Dia sudah multikultur dan jauh lebih Amerika ketimbang gadis Amerika sendiri. Dan aku merasa bosan berpacaran dengan Grace. Tak ada sesuatu yang bisa mengisi relung hatinya. Hampa. Semu. Seperti jika dia sedang menenggak bir, lalu mabuk sesaat, setelah dibawa tidur, saat bangun, semua selesai. Tak tersisa.
Aku rogoh kantung luar tas punggungku. Ada beberapa lembar email dari Nicky, yang sengaja aku print. Aku baca lagi. Ada satu surat yang membuatku terusik atau merasa terganggu: Kau beruntung bisa mendapatkan apa yang kau mau. Semua fasilitas tersedia. Tapi, sadarkah kau, bahwa uang yang kau dan keluargamu pakai, juga semua keluarga yang bekerja di KBRI-KBRI seluruh dunia, adalah tak sepadan dengan kontribusinya terhadap negeri ini. Kau tahu, betapa beratnya hidup di negeri leluhurmu, yang tak punya status dan kehormatan atau kesempatan seperti yang kau dapatkan. Kau dan keluarga dengan enak menikmati semua fasilitas dari negeri leluhurmu, yang sedang sekarat dan carut-marut. Jika kau lulus kuliah nanti, apakah terpikir akan pulang dan membangun negeri leluhurmu? Aku yakin tidak.
Ada yang mengganjal hatiku. Ada yang membuatku penasaran tentang Nicky, yang wajahnya saja aku tak pernah tahu. Aku coba surfing tentang negeriku, terutama tentang Bogor. Yang aku dapati seperti ini : Kota Bogor secara geografis terletak di antara 106’ 48’ BT dan 6’ 26’ LS, kedudukan geografis Kota Bogor di tengah-tengah wilayah Kabupaten Bogor serta lokasinya sangat dekat dengan Ibukota Negara, merupakan potensi yang strategis bagi perkembangan dan pertumbuhan ekonomi dan jasa, pusat kegiatan nasional untuk industri, perdagangan, transportasi, komunikasi, dan pariwisata. Luas wilayah 11.850 Ha terdiri dari 6 kecamatan, 68 kelurahan.
Itu saja. Aku pernah coba searching nama “Nicky”. Hanya ada satu nama Nicky yang populer, penyanyi rock “Nicky Astria”. Tak ada lagi. Berarti “Nicky”-ku adalah orang kebanyakan. Rakyat biasa. Apa dia perempuan? Aku pikir, iya. Aku bisa merasakannya dari kata-kata yang digunakannya. Pilihan katanya menggelorakan perasaan seorang perempuan.

***
“Ini istana Bogor,“ kata supir taksi. Dia meminggirkan taksinya di dekat trotoar. Sudah ada beberapa mobil berhenti. Aku belum mau turun dari taksi. Gila! Betul kata Grace dan Mama, bahwa kemacetan di kota Jakarta bukan lagi penyakit biasa, tapi sudah seperti kanker. Dari Soekarno-Hatta International Airport ke Bogor memakai waktu hampir tiga jam. Padahal jaraknya tidak lebih dari 70 kilometer. Lewat highway – supir taksi bilang tol Jagorawi – pula! Bagaimana ini?! Aku lihat, volume kendaraan tidak seimbang dengan beban jalan. Aku membaca di rambu-rambu, ada istilah “tree in one”, yang kata supir taksi itu untuk mobil-mobil pribadi. Dari supir taksi yang ramah, aku diberi tahu, bahwa orang-orang Jakarta lebih suka keluar dari rumah memakai mobil pribadi. Jika diandaikan sebuah keluarga mempunyai sepuluh mobil, berarti dari mulai ayah, ibu, anak bahkan sampai pembantu akan keluar memakai mobil masing-masing satu. Si ayah ke kantor, si ibu pergi arisan, si anak ke kampus atau ke sekolah, serta si pembantu pergi belanja untuk keperluan dapur. Untuk menghambat volume kendaraan, akhirnya diterapkanlah “tree in one”, agar mobil-mobil itu berfungsi baik, mengangkut penumpang dalam jumlah yang sesuai dengan bangku yang ada. Tapi, aku diperkenalkan lagi dengan “joki”; orang-orang yang berprofesi sebagai penumpang “tree in one”; untuk mensiasati peraturan itu. Wah, kreatif juga anak-anak negeri leluhurku itu.
“Bagaimana? Mau turun?”
“Sebentar, Pak,” kataku. Mataku melihat ke sekitar. Beberapa kendaraan berwarna hijau – kata supir taksi, itu angkutan umum! – berhenti sembarangan saja. Tidak peduli larangan stop atau malah lebih gila lagi, di tengah jalan! Supir-supir itu pasti tidak berpendidikan! Berhenti menurunkan penumpang di tengah jalan! Tidak di halte! Tubuhku lelah. Di angkasa dua puluh dua jam! Jet lag! Stress! Ingin marah, tak bisa apa-apa. Aku ingin tidur, tapi kepalaku pusing. Huh! Dimana kau, Nicky!
Aku melihat ke sisi kiriku. Pagar tinggi mengelilingi. Nun jauh ditengah-tengah, di antara batang-batang pohon besar, ada sebuah istana. Kata Nicky, itu adalah istana Bogor; tempat presiden pertama negeri leluhurku Ir. Soekarno, beristirahat. Kata Nicky lagi diemailnya, presiden kedua, Soeharto, tidak pernah beristirahat di istana ini. Ada lagi yang membuatku takjub, ratusan binatang bernama rusa dengan tenangnya berkeliaran. Bahkan beberapa ekor rusa menyembul di sela-sela pagar. Aku lihat beberapa keluarga turun dari mobil. Anak-anak mereka mendekati pagar dan memberi rusa-rusa itu makan. Aku jadi ingat email Nicky tentang rusa-rusa ini. Presiden keempat, Gus Dur, sering berpesta rusa di sini.
Aku rogoh saku. Aku beri tip. Supir taksi tampak gembira sekali. Tidak ada lima puluh dollar ongkosnya! Tidak ada masalah. Lalu aku buka pintu. Supir taksi membukakan bagasi. Ransel North Face digeletakkan di trotoar. Aku seret dan merapat ke dinding pagar. Beberapa orang sebayaku melintas. Ransel di punggungnya bermerek sama dengan ranselku. Wah, hebat juga! Aku betul-betul lelah.
Aku coba melihat ke balik pagar. Ratusan rusa bertebaran mengunyah rumput. Di seberang pagar ada sungai pembatas. Bening airnya. Beberapa ekor rusa turun untuk minum. Beberapa lagi menyeberangi sungai dan naik mendekati pagar. Anak-anak dengan tawanya yang riang memberi mereka makan sayuran.
Nicky, dimana? Di email terakhirnya, dia menyuruhku untuk menunggu di depan istana Bogor. Di trotoar. Sambil melihat anak-anak sedang memberi makan pada rusa. Dia akan datang memakai mobil berwarna hijau. Aku lihat tadi, begitu banyak mobil berwarna hijau. Kata supir taksi tadi, itu kendaraan umum. Semua yang ditulis Nicky sama persis dengan yang aku lihat sekarang. Aku lihat jam; pukul dua belas siang! Panas! Tapi tubuhku berkeringat; terasa segar. Sudah dua botol air mineral aku minum habis.
Aku mencoba memetik ranting daun dari pohon trembesi, yang menjuntai. Aku sodorkan lenganku melewati celah pagar. Mulut rusa mengunyahnya. Asyik juga. Di Kansas hal ini tidak pernah aku lakukan. Aku lihat di sebelah kananku seorang gadis dengan wajah ditutup kain – kata Mama itu adalah jilbab, pakaian khas orang yang beragama Islam- sedang membagi-bagikan sayuran pada anak-anak. Gadis itu seumuran Grace, membawa sekantung plastik sayur-sayuran. Walaupun aku hanya bisa melihat sebagian wajahnya, aku merasa pasti bahwa dia cantik sekali. Di belakangnya ada seorang junior high school, juga membagi-bagikan sayuran untuk makanan rusa. Aku yakin, anak kecil itu adik dari gadis berjilbab.
“Mau sayurannya?” tiba-tiba saja gadis berjilbab itu sudah berdiri di depanku.
“For Free?” aku kaget.
Si gadis tersenyum, “Yap! For Free! Gratis alias teu kudu mayar!”
Aku mengernyitkan dahi mendengar kalimat terakhir yang agak aneh di telingaku; gratis dan teu kudu mayar! Gratis, aku tahu. Tapi, “teu kudu mayar?”
“Sama saja artinya, for free!” dia tertawa.
Aku tersenyum, “Thanks!” Aku ambil beberapa ranting.
“Kapan datang?”
Tangan aku tarik lagi. Tapi mulut rusa sudah memakan sayurannya. Aku lepaskan sayuran itu. Aku tatap si gadis berjilbab. “You must be Nicky!” aku merasa surprise.
Dia tertawa.
Aku menyodorkan tangan; bermaksud berjabatan tangan. Tapi, Nicky menyatukan kedua telapak tangannya di dada dan tersenyum. “Selamat datang di kota Bogor,” katanya.
Aku gugup. Dia tidak menjabat tanganku. Apakah aku membawa penyakit menular? Tapi, dari senyumnya, aku yakin Nicky tidak bermaksud menghinaku.
“Pasti capek, ya?” tanyanya.
“Iya. Very tired!”
“Kenalkan, ini adikku,” Nicky mengenalkan anak kecil, yang masih membagi-bagikan sayuran ke anak-anak.
Aku tersenyum pada adiknya. Aku betul-betul kikuk.
“Ayo, kamu check in dulu!”
Aku mengangguk.
“Jalan kaki saja, ya.”
Walaupun aku capai, aku menurut saja. Aku sandang ransel di punggungku. Aku berjalan di sisinya. Tapi Nicky menjaga jarak, tidak mau terlalu dekat. Adik lelakinya berjalan dibelakangku; kesannya mengawal kami. Tapi Nicky asyik-asyik saja.
“Wajahmu nggak bule-bule amat!”
“Papa dan Mama asli Indonesia!”
“Iya juga, ya!”
“Adikmu…, ikut kita?”
“Yap!”
Aku menyeret kakiku, berjarak sekitar dua meter di sebelah Nicky. Kalau berjalan bersama Grace di Kansas, lain sekali. Kami biasa berpelukan. Bahkan berciuman bukanlah sesuatu yang tabu. Tapi, dengan Nicky, yang berjilbab. Aku merasa tidak pantas berjalan di sisinya. Aku jadi serba salah.
“Malu ya, jalan dengan aku?”
“Oh, no, no!” Aku kaget. Aku tidak ingin jauh-jauh datang ke Bogor, mengambang dua puluh dua jam di udara, hanya meributkan soal keyakinan seseorang. Aku sendiri bingung, memeluk agama apa. Papa dan Mamaku tidak pernah menyuruhku untuk memeluk agama apa pun. Aku perhatikan saat lebaran, Papa dan Mama ikut halal bihalal di Konjen. Begitu juga natal dan tahun baru. Agama kami berarti apa saja. Di kampus, hampir kebanyakan agamanya, ilmu pengetahuan.
“Ayo!” Nicky memasuki sebuah rumah tua. “Murah-meriah!”
Aku baca nama hotelnya : Wisma Pakuan – Home stay. Nyaman juga. Tidak berisik. Aku justru menyukai penginapan seperti ini. Terasa seperti sedang di rumah. Sepanjang hidupku, aku selalu berpindah-pindah dari satu apartemen ke apartemen lain. Di Kansas, aku tinggal di asrama, bersama Dave, yang kalau tidur mendengkur! Tak ada aturan apa-apa!

***

Aku berjalan-jalan di Kebun Raya, Bogor. Ini adalah paru-paru kota. Aku suka sekali. Di tengah kebisingan kota dengan keberadaannya yang kacau-balau, ada hutan dengan pohon-pohonnya yang sudah tua. Nicky berjalan disebelahku, agak menjauh seperti biasa. Dan adik lelakinya, berjalan di belakang; mengawal kami.
“Kamu janji siang ini akan mengajakku kerumahmu.”
“Oke!”
“Sudah jam satu!”
“Tapi, aku masih betah di sini! Kebun Raya ini bagiku seperti surga. Aku lupa dengan segala masalah yang ada di kotaku ini.”
“Tapi, kemarin kamu janjinya hari ini.”
“Kenapa kamu begitu ingin kerumahku?”
“Lantas, untuk apa pula aku terbang selama dua puluh dua jam dari Kansas ke sini?”
“Mengisi summer holiday-mu!”
“Aku bosan! Selama dua hari ini hanya melihat rusa Bogormu dan kebun Raya ini! Ditemani adikmu pula!”
“Aku tidak menyuruh kamu ke sini, lho,” Nicky tersenyum. “Kamu yang menginginkan liburan musim panasmu di sini. Aku hanya jadi guide saja.”
Aku duduk di bangku. Meminum air mineral. Angin sepoi menyejukkan hati. Mungkin aku sudah sinting. Jauh-jauh datang ke Bogor dari Kansas, hanya untuk melihat rusa Bogor dan kebun Raya. Tapi, Nicky semakin jadi magnet buatku. Semakin aku ingin pulang ke Kansas, semakin aku tak ingin meninggalkan Bogor. Ada yang kukagumi dari diri Nicky, yaitu keteguhan hatinya. Dia membuatku kagum dan harus menghormati atas segala sikapnya. Dia sama sekali tidak mau aku sentuh, walaupun hanya bersalaman atau untuk aku seberangkan, jika lalu-lintas sedang padat. Zebra cross di sini tidak jadi jaminan orang akan nyaman dan aman menyeberang. Tapi, Nicky lebih memilih meminta tolong adiknya.
Sore hari, dengan naik mobil berwarna hijau, yang ternyata lelucon Nicky, bahwa mobil itu memang angkutan umum, kami sampai di rumah Nicky. Rumahnya ada di bawah, di celah lekukan antara dua bukit. Kota Bogor ini berada di kaki gunung Salak. Rumahnya berhimpitan dengan rumah-rumah yang lain, tapi tidak terasa sesak. Banyak tanaman hias bergantungan dari tiang-tiang rumah. Kecil dan mungil. Halamannya tidak luas, hanya sekitar dua meteran.
“Mana orang tuamu?” tanyaku, karena rumahnya kosong. Hanya ada adiknya saja.
“Ayah dan ibuku sudah tidak ada. Kami hanya hidup berdua,” suaranya riang saja.
Aku terpana, “Kalian hidup berdua?”
“Iya.”
Adiknya muncul membawa dua gelas minuman teh manis panas.
“Bagaimana kalian membiayai hidup?”
“Kami dapat beasiswa. Aku juga nyambi jadi guide. Setiap aku berhasil membawa tamu menginap, aku mendapat komisi.”
Aku tercengang. Aku tak mampu berbuat apa-apa. Pertemuanku dengan Nicky membuatku seperti berada di dunia lain, yang tidak pernah aku rasakan. Ada nilai-nilai yang selama ini aku abaikan. Nilai kemanusiaan yang utuh, yang tak pernah aku rasakan di Kansas, bersama teman-teman di kampusku. Bersama dengan Grace, pacarku. Bahkan bersama Papa dan Mama. Uang begitu mudah aku peroleh dan aku hambur-hamburkan sesuka hati.
Saat pesawat lepas landas dari Soekarno-Hatta International Airport, perasaanku tak bisa aku gambarkan. Sulit untuk aku ceritakan pada kawan-kawanku di Kansas tentang segala yang aku lakukan bersama Nicky. Juga pada Papa dan Mama. Begitu berat meninggalkan Bogor. Begitu berat meninggalkan Nicky. Aku tidak tahu, apakah ini cinta? Ah, terlalu pagi. Yang hanya bisa aku ingat dari Nicky adalah keriangan dan kesederhanaan serta harga dirinya yang tinggi. Begitulah seharusnya seorang wanita, dia harus seperti pualam. Mahal dan tidak bisa sembarangan disentuh.

Diambil dari buku antologi cerpen berjudul “Addicted 2 U” yang diterbitkan oleh Forum Lingkar Pena.
Dapatkan bukunya dan ikuti cerpen-cerpen pilihan karya Asma Nadia, Gola Gong, Hilman dan lain-lain.

Di Atas Sajadah Cinta

KOTA KUFAH terang oleh sinar purnama. Semilir angin yang bertiup dari utara membawa hawa sejuk. Sebagian rumah telah menutup pintu dan jendelanya. Namun geliat hidup kota Kufah masih terasa.
Di serambi masjid Kufah, seorang pemuda berdiri tegap menghadap kiblat. Kedua matanya memandang teguh ke tempat sujud. Bibirnya bergetar melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran. Hati dan seluruh gelegak jiwanya menyatu dengan Tuhan, Pencipta alam semesta. Orang-orang memanggilnya “Zahid” atau “Si Ahli Zuhud”, karena kezuhudannya meskipun ia masih muda. Dia dikenal masyarakat sebagai pemuda yang paling tampan dan paling mencintai masjid di kota Kufah pada masanya. Sebagian besar waktunya ia habiskan di dalam masjid, untuk ibadah dan menuntut ilmu pada ulama terkemuka kota Kufah. Saat itu masjid adalah pusat peradaban, pusat pendidikan, pusat informasi dan pusat perhatian.
Pemuda itu terus larut dalam samudera ayat Ilahi. Setiap kali sampai pada ayat-ayat azab, tubuh pemuda itu bergetar hebat. Air matanya mengalir deras. Neraka bagaikan menyala-nyala dihadapannya. Namun jika ia sampai pada ayat-ayat nikmat dan surga, embun sejuk dari langit terasa bagai mengguyur sekujur tubuhnya. Ia merasakan kesejukan dan kebahagiaan. Ia bagai mencium aroma wangi para bidadari yang suci.
Tatkala sampai pada surat Asy Syams, ia menangis,
“fa alhamaha fujuuraha wa taqwaaha.
qad aflaha man zakkaaha.
wa qad khaaba man dassaaha
…”
(maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketaqwaan,
sesungguhnya, beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,
dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya
…)
Hatinya bertanya-tanya. Apakah dia termasuk golongan yang mensucikan jiwanya. Ataukah golongan yang mengotori jiwanya? Dia termasuk golongan yang beruntung, ataukah yang merugi?
Ayat itu ia ulang berkali-kali. Hatinya bergetar hebat. Tubuhnya berguncang. Akhirnya ia pingsan.

***

Sementara itu, di pinggir kota tampak sebuah rumah mewah bagai istana. Lampu-lampu yang menyala dari kejauhan tampak berkerlap-kerlip bagai bintang gemintang. Rumah itu milik seorang saudagar kaya yang memiliki kebun kurma yang luas dan hewan ternak yang tak terhitung jumlahnya.
Dalam salah satu kamarnya, tampak seorang gadis jelita sedang menari-nari riang gembira. Wajahnya yang putih susu tampak kemerahan terkena sinar yang terpancar bagai tiga lentera yang menerangi ruangan itu. Kecantikannya sungguh memesona. Gadis itu terus menari sambil mendendangkan syair-syair cinta,
“in kuntu ‘asyiqatul lail fa ka’si
musyriqun bi dhau’
wal hubb al wariq
…”
(jika aku pencinta malam maka
gelasku memancarkan cahaya
dan cinta yang mekar
…)

***

Gadis itu terus menari-nari dengan riangnya. Hatinya berbunga-bunga. Di ruangan tengah, kedua orangtuanya menyungging senyum mendengar syair yang didendangkan putrinya. Sang ibu berkata, “Abu Afirah, putri kita sudah menginjak dewasa. Kau dengarkanlah baik-baik syair-syair yang ia dendangkan.”
“Ya, itu syair-syair cinta. Memang sudah saatnya dia menikah. Kebetulan tadi siang di pasar aku berjumpa dengan Abu Yasir. Dia melamar Afirah untuk putranya, Yasir.”
“Bagaimana, kau terima atau…?”
“Ya jelas langsung aku terima. Dia ‘kan masih kerabat sendiri dan kita banyak berhutang budi padanya. Dialah yang dulu menolong kita waktu kesusahan. Di samping itu Yasir itu gagah dan tampan.”
“Tapi bukankah lebih baik kalau minta pendapat Afirah dulu?”
“Tak perlu! Kita tidak ada pilihan kecuali menerima pinangan ayah Yasir. Pemuda yang paling cocok untuk Afirah adalah Yasir.”
“Tapi, engkau tentu tahu bahwa Yasir itu pemuda yang tidak baik.”
“Ah, itu gampang. Nanti jika sudah beristri Afirah, dia pasti juga akan tobat! Yang penting dia kaya raya.”

***

Pada saat yang sama, di sebuah tenda mewah, tak jauh dari pasar Kufah. Seorang pemuda tampan dikelilingi oleh teman-temannya. Tak jauh darinya seorang penari melenggak lenggokan tubuhnya diiringi suara gendang dan seruling.
“Ayo bangun, Yasir. Penari itu mengerlingkan matanya padamu!” bisik temannya.
“Be…benarkah?”
“Benar. Ayo cepatlah. Dia penari tercantik kota ini. Jangan kau sia-siakan kesempatan ini, Yasir!”
“Baiklah. Bersenang-senang dengannya memang impianku.”
Yasir lalu bangkit dari duduknya dan beranjak menghampiri sang penari. Sang penari mengulurkan tangan kanannya dan Yasir menyambutnya. Keduanya lalu menari-nari diiringi irama seruling dan gendang. Keduanya benar-benar hanyut dalam kelenaan. Dengan gerakan mesra penari itu membisikkan sesuatu ketelinga Yasir,
“Apakah Anda punya waktu malam ini bersamaku?”
Yasir tersenyum dan menganggukan kepalanya. Keduanya terus menari dan menari. Suara gendang memecah hati. Irama seruling melengking-lengking. Aroma arak menyengat nurani. Hati dan pikiran jadi mati.

***
Keesokan harinya.
Usai shalat dhuha, Zahid meninggalkan masjid menuju ke pinggir kota. Ia hendak menjenguk saudaranya yang sakit. Ia berjalan dengan hati terus berzikir membaca ayat-ayat suci Al-Quran. Ia sempatkan ke pasar sebentar untuk membeli anggur dan apel buat saudaranya yang sakit.
Zahid berjalan melewati kebun kurma yang luas. Saudaranya pernah bercerita bahwa kebun itu milik saudagar kaya, Abu Afirah. Ia terus melangkah menapaki jalan yang membelah kebun kurma itu. Tiba-tiba dari kejauhan ia melihat titik hitam. Ia terus berjalan dan titik hitam itu semakin membesar dan mendekat. Matanya lalu menangkap di kejauhan sana perlahan bayangan itu menjadi seorang sedang menunggang kuda. Lalu sayup-sayup telinganya menangkap suara,
“Toloong! Toloong!!”
Suara itu datang dari arah penunggang kuda yang ada jauh di depannya. Ia menghentikan langkahnya. Penunggang kuda itu semakin jelas.
“Toloong! Toloong!!”
Suara itu semakin jelas terdengar. Suara seorang perempuan. Dan matanya dengan jelas bisa menangkap penunggang kuda itu adalah seorang perempuan. Kuda itu berlari kencang.
“Toloong! Toloong hentikan kudaku ini! Ia tidak bisa dikendalikan!”
Mendengar itu Zahid tegang. Apa yang harus ia perbuat. Sementara kuda itu semakin dekat dan tinggal beberapa belas meter di depannya. Cepat-cepat ia menenangkan diri dan membaca shalawat. Ia berdiri tegap di tengah jalan. Tatkala kuda itu sudah sangat dekat ia mengangkat tangan kanannya dan berkata keras,
“Hai kuda makhluk Allah, berhentilah dengan izin Allah!”
Bagai pasukan mendengar perintah panglimanya, kuda itu meringkik dan berhenti seketika. Perempuan yang ada dipunggungnya terpelanting jatuh. Perempuan itu mengaduh. Zahid mendekati perempuan itu dan menyapanya,
“Assalamu’alaiki. Kau tidak apa-apa?”
Perempuan itu mengaduh. Mukanya tertutup cadar hitam. Dua matanya yang bening menatap Zahid. Dengan sedikit merintih ia menjawab pelan,
“Alhamdulillah, tidak apa-apa. Hanya saja tangan kananku sakit sekali. Mungkin terkilir saat jatuh.”
“Syukurlah kalau begitu.”
Dua mata bening di balik cadar itu terus memandangi wajah tampan Zahid. Menyadari hal itu Zahid menundukkan pandangannya ke tanah. Perempuan itu perlahan bangkit. Tanpa sepengetahuan Zahid, ia membuka cadarnya. Dan tampaklah wajah cantik nan memesona,
“Tuan, saya ucapkan terima kasih. Kalau boleh tahu siapa nama Tuan, dari mana dan mau ke mana Tuan?”
Zahid mengangkat mukanya. Tak ayal matanya menatap wajah putih bersih memesona. Hatinya bergetar hebat. Syaraf dan ototnya terasa dingin semua. Inilah untuk pertama kalinya ia menatap wajah gadis jelita dari jarak yang sangat dekat. Sesaat lamanya keduanya beradu pandang. Sang gadis terpesona oleh ketampanan Zahid, sementara gemuruh hati Zahid tak kalah hebatnya. Gadis itu tersenyum dengan pipi merah merona, Zahid tersadar, ia cepat-cepat menundukkan kepalanya. “Innalillah. Astagfirullah,” gemuruh hatinya.
“Namaku Zahid, aku dari masjid mau mengunjungi saudaraku yang sakit.”
“Jadi, kaukah Zahid yang sering dibicarakan orang itu? Yang hidupnya cuma di dalam masjid?”
“Tak tahulah. Itu mungkin Zahid yang lain.” kata Zahid sambil membalikkan badan. Ia lalu melangkah.
“Tunggu dulu Tuan Zahid! Kenapa tergesa-gesa? Kau mau kemana? Perbincangan kita belum selesai!”
“Aku mau melanjutkan perjalananku!”
Tiba-tiba gadis itu berlari dan berdiri di hadapan Zahid. Terang saja Zahid gelagapan. Hatinya bergetar hebat menatap aura kecantikan gadis yang ada di depannya. Seumur hidup ia belum pernah menghadapi situasi seperti ini.
“Tuan aku hanya mau bilang, namaku Afirah. Kebun ini milik ayahku. Dan rumahku ada di sebelah selatan kebun ini. Jika kau mau silakan datang ke rumahku. Ayah pasti akan senang dengan kehadiranmu. Dan sebagai ucapan terima kasih aku mau menghadiahkan ini.”
Gadis itu lalu mengulurkan tangannya memberi sapu tangan hijau muda.
“Tidak usah.”
“Terimalah, tidak apa-apa! Kalau tidak Tuan terima, aku tidak akan memberi jalan!”
Terpaksa Zahid menerima sapu tangan itu. Gadis itu lalu minggir sambil menutup kembali mukanya dengan cadar. Zahid melangkahkan kedua kakinya melanjutkan perjalanan.

***

Saat malam datang membentangkan jubah hitamnya, kota Kufah kembali diterangi sinar rembulan. Angin sejuk dari utara semilir mengalir.
Afirah terpekur di kamarnya. Matanya berkaca-kaca. Hatinya basah. Pikirannya bingung. Apa yang menimpa dirinya. Sejak kejadian tadi pagi di kebun kurma hatinya terasa gundah. Wajah bersih Zahid bagai tak hilang dari pelupuk matanya. Pandangan matanya yang teduh menunduk membuat hatinya sedemikian terpikat. Pembicaraan orang-orang tentang kesalehan seorang pemuda di tengah kota bernama Zahid semakin membuat hatinya tertawan. Tadi pagi ia menatap wajahnya dan mendengarkan tutur suaranya. Ia juga menyaksikan wibawanya. Tiba-tiba air matanya mengalir deras. Hatinya merasakan aliran kesejukan dan kegembiraan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dalam hati ia berkata,
“Inikah cinta? Beginikah rasanya? Terasa hangat mengaliri syaraf. Juga terasa sejuk di dalam hati. Ya Rabbi, tak aku pungkiri aku jatuh hati pada hamba-Mu yang bernama Zahid. Dan inilah untuk pertama kalinya aku terpesona pada seorang pemuda. Untuk pertama kalinya aku jatuh cinta. Ya Rabbi, izinkanlah aku mencintainya.”
Air matanya terus mengalir membasahi pipinya. Ia teringat sapu tangan yang ia berikan pada Zahid. Tiba-tiba ia tersenyum,
“Ah sapu tanganku ada padanya. Ia pasti juga mencintaiku. Suatu hari ia akan datang kemari.”
Hatinya berbunga-bunga. Wajah yang tampan bercahaya dan bermata teduh itu hadir di pelupuk matanya.

***
Sementara itu di dalam masjid Kufah tampak Zahid yang sedang menangis di sebelah kanan mimbar. Ia menangisi hilangnya kekhusyukan hatinya dalam shalat. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Sejak ia bertemu dengan Afirah di kebun kurma tadi pagi ia tidak bisa mengendalikan gelora hatinya. Aura kecantikan Afirah bercokol dan mengakar sedemikian kuat dalam relung-relung hatinya. Aura itu selalu melintas dalam shalat, baca Al-Quran dan dalam apa saja yang ia kerjakan. Ia telah mencoba berulang kali menepis jauh-jauh aura pesona Afirah dengan melakukan shalat sekhusyu’-khusyu’-nya namun usaha itu sia-sia.
“Ilahi, kasihanilah hamba-Mu yang lemah ini. Engkau Mahatahu atas apa yang menimpa diriku. Aku tak ingin kehilangan cinta-Mu. Namun Engkau juga tahu, hatiku ini tak mampu mengusir pesona kecantikan seorang makhluk yang Engkau ciptakan. Saat ini hamba sangat lemah berhadapan dengan daya tarik wajah dan suaranya Ilahi, berilah padaku cawan kesejukan untuk meletakkan embun-embun cinta yang menetes-netes dalam dinding hatiku ini. Ilahi, tuntunlah langkahku pada garis takdir yang paling Engkau ridhai. Aku serahkan hidup matiku untuk-Mu.” Isak Zahid mengharu biru pada Tuhan Sang Pencipta hati, cinta, dan segala keindahan semesta.
Zahid terus meratap dan mengiba. Hatinya yang dipenuhi gelora cinta terus ia paksa untuk menepis noda-noda nafsu. Anehnya, semakin ia meratap embun-embun cinta itu semakin deras mengalir. Rasa cintanya pada Tuhan. Rasa takut akan azab-Nya. Rasa cinta dan rindu-Nya pada Afirah. Dan rasa tidak ingin kehilangannya. Semua bercampur dan mengalir sedemikian hebat dalam relung hatinya. Dalam puncak munajatnya ia pingsan.
Menjelang subuh, ia terbangun. Ia tersentak kaget. Ia belom shalat tahajjud. Beberapa orang tampak tengah asyik beribadah bercengkerama dengan Tuhannya. Ia menangis, ia menyesal. Biasanya ia sudah membaca dua juz dalam shalatnya.
“Ilahi, jangan kau gantikan bidadariku di surga dengan bidadari dunia. Ilahi, hamba lemah maka berilah kekuatan!”
Ia lalu bangkit, wudhu, dan shalat tahajjud. Di dalam sujudnya ia berdoa,
“Ilahi, hamba mohon ridha-Mu dan surga. Amin. Ilahi lindungi hamba dari murkamu dan neraka. Amin. Ilahi, jika boleh hamba titipkan rasa cinta hamba pada Afirah pada-Mu, hamba terlalu lemah untuk menanggung-Nya. Amin. Ilahi, hamba memohon ampunan-Mu, rahmat-Mu, cinta-Mu, dan ridha-Mu. Amin.”

***

Pagi hari, usai shalat dhuha Zahid berjalan ke arah pinggir kota. Tujuannya jelas yaitu melamar Afirah. Hatinya mantap untuk melamarnya. Di sana ia disambut dengan baik oleh kedua orangtua Afirah. Mereka sangat senang dengan kunjungan Zahid yang sudah terkenal ketakwaannya di seantero penjuru kota. Afiah keluar sekejab untuk membawa minuman lalu kembali ke dalam. Dari balik tirai ia mendengarkan dengan seksama pembicaraan Zahid dengan ayahnya. Zahid mengutarakan maksud kedatangannya, yaitu melamar Afirah.
Sang ayah diam sesaat. Ia mengambil nafas panjang. Sementara Afirah menanti dengan seksama jawaban ayahnya. Keheningan mencekam sesaat lamanya. Zahid menundukkan kepala ia pasrah dengan jawaban yang akan diterimanya. Lalu terdengarlah jawaban ayah Afirah,
“Anakku Zahid, kau datang terlambat. Maafkan aku, Afirah sudah dilamar Abu Yasir untuk putranya Yasir beberapa hari yang lalu, dan aku telah menerimanya.”
Zahid hanya mampu menganggukan kepala. Ia sudah mengerti dengan baik apa yang didengarnya. Ia tidak bisa menyembunyikan irisan kepedihan hatinya. Ia mohon diri dengan mata berkaca-kaca. Sementara Afirah, lebih tragis keadaannya. Jantungnya nyaris pecah mendengarnya. Kedua kakinya seperti lumpuh seketika. Ia pun pingsan saat itu juga.

***

Zahid kembali ke masjid dengan kesedihan tak terkira. Keimanan dan ketakwaan Zahid ternyata tidak mampu mengusir rasa cintanya pada Afirah. Apa yang ia dengar dari ayah Afirah membuat nestapa jiwanya. Ia pun jatuh sakit. Suhu badannya sangat panas. Berkali-kali ia pingsan. Ketika keadaannya kritis seorang jamaah membawa dan merawatnya di rumahnya. Ia sering mengigau. Dari bibirnya terucap kalimat tasbih, tahlil, istigfhar dan … Afirah.
Kabar tentang derita yang dialami Zahid ini tersebar ke seantero kota Kufah. Angin pun meniupkan kabar ini ke telinga Afirah. Rasa cinta Afirah yang tak kalah besarnya membuatnya menulis sebuah surat pendek,



Kepada Zahid,

Assalamu’alaikum

Aku telah mendengar betapa dalam rasa cintamu padaku. Rasa cinta itulah yang membuatmu sakit dan menderita saat ini. Aku tahu kau selalu menyebut diriku dalam mimpi dan sadarmu. Tak bisa kuingkari, aku pun mengalami hal yang sama. Kaulah cintaku yang pertama. Dan kuingin kaulah pendamping hidupku selama-lamanya.
Zahid,
Kalau kau mau. Aku tawarkan dua hal padamu untuk mengobati rasa haus kita berdua. Pertama, aku akan datang ke tempatmu dan kita bisa memadu cinta. Atau kau datanglah ke kamarku, akan aku tunjukkan jalan dan waktunya.

Wassalam
Afirah

===============================================================

Surat itu ia titipkan pada seorang pembantu setianya yang bisa dipercaya. Ia berpesan agar surat itu langsung sampai ke tangan Zahid. Tidak boleh ada orang ketiga yang membacanya. Dan meminta jawaban Zahid saat itu juga.
Hari itu juga surat Afirah sampai ke tangan Zahid. Dengan hati berbunga-bunga Zahid menerima surat itu dan membacanya. Setelah tahu isinya seluruh tubuhnya bergetar hebat. Ia menarik nafas panjang dan beristighfar sebanyak-banyaknya. Dengan berlinang air mata ia menulis untuk Afirah :



Kepada Afirah,

Salamullahi’alaiki,

Benar aku sangat mencintaimu. Namun sakit dan deritaku ini tidaklah semata-mata karena rasa cintaku padamu. Sakitku ini karena aku menginginkan sebuah cinta suci yang mendatangkan pahala dan diridhai Allah ‘Azza Wa Jalla’. Inilah yang kudamba. Dan aku ingin mendamba yang sama. Bukan sebuah cinta yang menyeret kepada kenistaan dosa dan murka-Nya.
Afirah,
Kedua tawaranmu itu tak ada yang kuterima. Aku ingin mengobati kehausan jiwa ini dengan secangkir air cinta dari surga. Bukan air timah dari neraka. Afirah, “Inni akhaafu in ‘ashaitu Rabbi adzaaba yaumin ‘adhim!” ( Sesungguhnya aku takut akan siksa hari yang besar jika aku durhaka pada Rabb-ku. Az Zumar : 13 )
Afirah,
Jika kita terus bertakwa. Allah akan memberikan jalan keluar. Tak ada yang bisa aku lakukan saat ini kecuali menangis pada-Nya. Tidak mudah meraih cinta berbuah pahala. Namun aku sangat yakin dengan firmannya :
“Wanita-wanita yang tidak baik adalah untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah buat wanita-wanita yang tidak baik (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka. Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (yaitu surga).”
Karena aku ingin mendapatkan seorang bidadari yang suci dan baik maka aku akan berusaha kesucian dan kebaikan. Selanjutnya Allahlah yang menentukan.
Afirah,
Bersama surat ini aku sertakan sorbanku, semoga bisa jadi pelipur lara dan rindumu. Hanya kepada Allah kita serahkan hidup dan mati kita.

Wassalam,
Zahid

===============================================================

Begitu membaca jawaban Zahid itu Afirah menangis. Ia menangis bukan karena kecewa tapi menangis karena menemukan sesuatu yang sangat berharga, yaitu hidayah. Pertemuan dan percintaannya dengan seorang pemuda saleh bernama Zahid itu telah mengubah jalan hidupnya.
Sejak itu ia menanggalkan semua gaya hidupnya yang glamor. Ia berpaling dari dunia dan menghadapkan wajahnya sepenuhnya untuk akhirat. Sorban putih pemberian Zahid ia jadikan sajadah, tempat dimana ia bersujud, dan menangis di tengah malam memohon ampunan dan rahmat Allah SWT. Siang ia puasa malam ia habiskan dengan bermunajat pada Tuhannya. Di atas sajadah putih ia menemukan cinta yang lebih agung dan lebih indah, yaitu cinta kepada Allah SWT. Hal yang sama juga dilakukan Zahid di masjid Kufah. Keduanya benar-benar larut dalam samudera cinta kepada Allah SWT.
Allah Maha Rahman dan Rahim. Beberapa bulan kemudian Zahid menerima sepucuk surat dari Afirah :



Kepada Zahid,

Assalamu’alaikum,

Segala puji bagi Allah, Dialah Tuhan yang memberi jalan keluar hamba-Nya yang bertakwa. Hari ini ayahku memutuskan tali pertunanganku dengan Yasir. Beliau telah terbuka hatinya. Cepatlah kau datang melamarku. Dan kita laksanakan pernikahan mengikuti sunnah Rasululullah SAW. Secepatnya.

Wassalam,
Afirah



===============================================================
Seketika itu Zahid sujud syukur di mihrab masjid Kufah. Bunga-bunga cinta bermekaran dalam hatinya. Tiada henti bibirnya mengucapkan hamdalah.





Diambil dari buku dengan judul yang sama karya Habiburrahman El Shirazy.

Be My Valentine


“Tell me whom you love and
I will tell you who you are
            Will you be my valentine?”
Meti meremas secarik kertas tanpa dosa di genggamannya. Tulisan cantiknya yang mengisi ruang kecil lembaran putih itu berkerunyut kusut. Valentine! Valentine! Huh! Kapan dia akan mendapat memo cinta seperti itu dari seorang pangeran impiannya? Seperti Rosa, seperti Pupuy, Lula, atau Sarah. Mereka semua sudah punya pacar dan segudang rencana menjelang hari kemerdekaan cinta, 14 Februari itu. Bahkan, sejak minggu-minggu ini, sebelum angka-angka di kalender Januari menunjuk nilai tertinggi.
Memang, di antara lima sekawan, bukan dia sendiri yang belum punya pacar. Pupuy dan Lula masih sorangan wae dan mereka menikmati kesendirian mereka. Tapi, untuk hari Valentine nanti, mereka sudah punya pasangan untuk teman ngedate di pesta-pesta romantis milik orang-orang yang penuh cinta. Itu istilah mereka. Sementara Meti? Gadis itu melirik sosoknya di kaca etalase toko buku megah itu. Separah apa wajahnya hingga tak ada seorang pun pria berminat padanya? Untuk sehari saja sekalipun. Dada Meti menyesak.
Kotak empat persegi yang dipenuhi kartu-kartu bergambar hati dan merpati berwarna pink di depan pintu utama berjubel pengunjung. Semua hampir gadis-gadis belasan tahun. Meti berjalan menghindar.
“Nah, lho, ketangkap sekarang!”
Jantung Meti berdebam-debam seketika. Menghentak-hentak dadanya. Wajahnya memucat tanpa setetes darah mengisi pembuluh di muka bulatnya itu. Dua gadis semampai berseragam abu-abu putih berdiri di hadapannya. Terkikik dengan tawa khas mereka. Rosa dan Pupuy.
“Mau cari kartu, ya? Bocoran buat bikin janji, ya? Sama siapa? Ronnie?” selidik Pupuy antusias. Cengirannya melatari semua pertanyaan interogasinya itu.
”Wah, iya, pasti Ronnie, nih! Dengar-dengar dia belum ada gandengannya, tuh! Ayo, dong, Met, nanti keduluan orang tahu rasa, lo!” Rosa mengompori.
”Apaan, sih!” tidak tahu kenapa, tapi akhir-akhir ini tensi Meti memang cepat sekali melonjak. Meggelegak berbusa-busa. Persis air mendidih bersuhu seratus derajat celsius yang bisa mematikan kuman-kuman. Terlebih jika itu menyangkut Ronnie.
”Marah, nih, ye! Ingat, lho, valentine gak ada istilah ngomel, musti sayang-sayangan. Termasuk sama temen. Tul, kan, Puy?” Rosa tersenyum dikulum. Sebelah matanya berkedip nakal.
”Valentine apaan, aku nggak ngenal, tuh, budaya barat jelek kayak gitu. Nggak ada manfaatnya lagi,” cetus Meti ketus.
”Siapa bilang jelek? Asyik lagi! Kita bisa bebas mengungkapkan rasa sayang kita pada semua orang tanpa rasa malu atau bersalah. Hari itu, kan hari kasih sayang. Kasih coklat, kasih bunga, pokoknya ungkapan cinta dan nggak ada orang yang berhak melarang,” Rosa bereaksi cepat. Pupuy terkikik di belakangnya. Dua macan di gank mereka sudah siap bertarung. Salah satu harus dilarikan sebelum seisi hutan kocar-kacir dibuatnya.
”Budaya seperti itu, kan, tidak Islami,” sergah Meti.
”Memangnya dalam Islam nggak ada cinta dan kasih sayang, ya?!”
”Nggak. Yang dikatakan dengan coklat bergelatin lemak babi, mawar merah, dan pesta–pesta gala murahan tidak ada!”
”Stop! Sudah, sudah, jangan berkelahi di sini. Kasih sayangnya hilang lagi nanti. Yuk, Ros, kita duluan. Darah tinggi Meti lagi kumat, tuh! Mengalah sajalah, setidaknya untuk hari ini sampai Valentine nanti,”Pupuy menggamit pinggang Rosa. Menariknya meninggalkan Meti yang masih menyimpan kedongkolan di hatinya.
”Sorry, Met!” Pupuy masih menyempatkan menghadiahkan ciuman sekilas di pipi Meti, menimpa sebagian batas kerudung di wajahnya. ”Kita duluan, nih, nggak apa-apa, kan?”
Pupuy yang bijak. Batin Meti. Wasit yang baik dalam komunitas lima makhluk terunik di bumi ini. Tanpanya, tidak akan mungkin mereka utuh sampai hari ini. Pertengkaran demi pertengkaran kerap membayangi persahabatan mereka, terutama karena darah panas Meti yang gampang terpancing. Pupuy yang selalu menengahi. Membawa kesejukan. Membawa perekat untuk mereka berlima.
Dan Rosa, dia yang paling tomboi. Hampir tak ada nilai keperempuanan pada diri anak itu. Tapi anehnya, masih juga ada makhluk bernama cowok yang tertarik pada rambut cepak dan raut keras wajahnya. Meti mendesah. Dia feminin, setidaknya itu yang dia rasa. Berjilbab lagi! Banyak cowok suka perempuan berjilbab. Lebih anggun, lebih beraura, lebih kelihatan suci. Ho … ho … meski itu seharusnya milik mbak-mbak yang jilbabnya menyapu dada dan punggungnya. Meti, sih, ditiup angin saja, ujung jilbabnya berlarian. Membuka sekilas kuduknya yang bersih tak tersentuh matahari. Tapi apapun, Meti tetap berkerudung. Dengan baju full pressed body dan celana cordoray sekalipun. Atau jangan-jangan selembar kain di kepalanya itu yang membentenginya dari tangan laki-laki. Tidak ada yang mau dengannya? Tidak laku? Hiii ….
Membayangkan semua itu Meti bergidik sendiri. Benarkah? Bisa saja Ronnie tidak suka dengan perempuan berkerudung. Lebih suka gadis-gadis yang berambut indah terurai seperti bintang iklan sampo di televisi. Lho, kok, Ronnie? Meti menangkap kembali hatinya yang mulai melangkah pergi lagi. Ya, kenapa Ronnie?
Entahlah, namun bulan-bulan terakhir jantung Meti selalu berdegup sepuluh kali lebih kencang jika mengingat makhluk yang satu itu. Apa lagi mendengar namanya di sebut. Apa lagi bersirobok dengannya. Seperti udang yang dicelupkan ke air mendidih, pasti. Merah padam. Tanda-tanda apa? Benarkah dia naksir Ronnie, seperti kata sebuah majalah remaja yang kerap dia baca? Suka curi pandang, suka ngomongin, gampang panas dingin, corat-coret namanya di mana-mana, ngelamunin, salah omong, juga jadi manusia paling majnun di dunia. Duhai ….
”Cinta itu fitrah manusia, namun kita harus bisa menempatkannya pada suatu keadaan yang dilegalkan Allah. Islam telah mengatur semua itu. Memberinya kemudahan dengan pernikahan …” Tidak sama persis kalimatnya, namun Meti ingat, pernah membacanya di sebuah situs Islam lokal. Menikah? Tidak boleh pacaran sebelumnya? Nggak ku … ku …!
Gedubrak!
Meti mengelus jidatnya. Senyum sipunya mengembang. Lebih mirip meringis sebenarnya. Etalase buku ditabraknya dengan sukses.
”Nggak apa-apa, Mbak?” seorang gadis pramuniaga menghampirinya.
”Oh, ehm, nggak!” Meti tergagap. Tangannya masih memegangi jidatnya. Lumayan sekali.
”Nggak sakit?”
Meti menggeleng, ”Maaf, ya, saya benar-benar nggak sengaja.”
Dengan malu-malu, diiringi tatapan beberapa pengunjung, Meti berlalu. Menghampiri eskalator dan menaikinya hingga lantai dua.
***
”Satu kelompok dengan Ronnie?” batin Meti sambil memandangi selembar kertas berisi daftar nama kelompok-kelompok praktikum biologi minggu depan.
”Nah, tertangkap!” Rosa menepuk dua bahu Meti sekeras-kerasnya. Matanya segera bergabung pada lembaran kertas di tangan Meti.
”Satu kelompok dengan Ronnie, ck, ck, boleh juga!” decaknya ketika menemukan nama Ronnie terpampang sebagai ketua kelompok Meti. ”Hoi, girls, Meti gabung dengan Ronnie!” teriaknya sadis kepada teman-teman lain.
Ronnie yang tengah menulis di bangkunya mendongak. Meti memerah. Sedetik kemudian memutih kapas. Lesu. Jantungnya kumat lagi. Terlebih melihat Ronnie ada disitu.
”Jadi valentinan?” tanya Lula yang memang sedikit gagap daya tangkapnya.
”Iya,” angguk Rosa tanpa memedulikan keadaan Meti yang nyaris pingsan.
Meti tiba-tiba menemukan satu mata pedang menusuk hatinya. Kilat mata milik Ranti yang duduk di deretan paling depan. Satu-satunya gadis berjilbab lebar di kelasnya. Yang paling getol mengajaknya ngaji setiap Jumat siang di musala sekolah. Dia ibarat malaikat yang selalu mengawasi gerak-gerik Meti. Menegurnya tanpa segan-segan. Dan Meti tidak suka itu. Sok tahu.
Dengan sedikit menata hatinya, Meti pergi menjauh. Ini jalan yang terbaik sebelum pertengkaran terjadi. Di depan malaikat Ranti dan di depan si Romeo Ronnie, Meti tak mau merusak imejnya. Jaim sedikit untuk kemaslahatan yang lebih banyak.
Di sudut sekolah, Meti meluruskan punggungnya. Memeluk kedua lututnya. Ronnie bahkan tak bereaksi tadi. Sebegitu parahkah aku? Keluhnya. Tanggal empat belas sudah di depan mata. Anak-anak gaul kelasnya sudah ribut. Dan apakah Meti akan merana sendirian di kamarnya, pada hari penuh makna itu? Meti menatap bayangannya yang jatuh di antara kerikil-kerikil putih yang tertata rapi di hadapannya. Selembar daun flamboyan kering terbang bebas di udara dicerabut angin dari tangkainya. Merana. Meti mendesah.
***
”Legenda lain bercerita tentang seorang pendeta Katholik dari abad III bernama Valentinus yang dijebloskan ke penjara dan dihukum mati oleh Kaisar Claudius karena ingin menyebarkan agamanya. Selama di penjara, Valentinus tetap memegang teguh imannya dan diceritakan bersahabat dengan putri sipir penjara. Ketika akhirnya Kaisar menghukum mati Valentinus pada 14 Februari 269, ia menulis surat bertuliskan from your valentine kepada anak sipir penjara sebagai tanda mata terakhir.
Seiring dengan berjalannya waktu, cerita tentang Valentine ini berkembang dalam berbagai versi. Namun orang biasanya lebih memfokuskan pada kisah romantis di belakangnya. Ada yang mengatakan bahwa Valentine sesungguhnya jatuh cinta pada anak sipir penjara itu, dan surat yang diberikannya sebagai tanda mata terakhir merupakan awal dari tradisi menulis surat cinta di antara pasangan kekasih …”
Meti menggarisbawahi kata-kata seorang pendeta Katholik pada artikel sebuah majalah remaja di tangannya. Bibirnya mengerucut. Shiba, boneka beruang birunya, dihempaskan begitu saja ke lantai.
Meti tahu cerita itu dari dahulu. Hafal di luar kepala bahkan. Versi Romawi, Prancis, Inggris, Wales, Itali, Jerman, Amerika Utara, bahkan sampai cerita gadis penenun di Cina. Dia juga tahu, itu bukan tradisi Islam. Tapi jika cinta menghampiri, siapa yang kuasa mengelaknya? Semua temannya mengharap valentine tiba. Mengungkapkan rasa cintanya pada pujaan mereka. Bahkan lebih luas lagi.
”Nggak harus kekasih, pada bonyok, adik, kakak, saudara, bahkan si bibi atau mamang sopir bisa saja diungkapkan. Pokoknya hari itu harus full senyum, deh!” kata Pupuy dengan bijaknya.
Meti tersenyum. Dia sudah membacanya di majalah remaja khusus cewek edisi valentine yang terbit minggu ini. Semua yang berbau perayaan pink itu dikupas habis. Tips mau kencan, kado-kado istimewa, baju-baju yang cocok, wah, komplet.
”Met, ada telepon, tuh!” panggil Mamah dari ruang tengah. Telepon? Sepertinya tadi dia tidak mendengar deringnya. Meti kian pusing. Mengapa jadi begini? Dia melihat sekilas kalender di atas rak bukunya. Tanggal sebelas Februari.
”Makasih, Mah!” seru Meti sambil mengangkat gagang telepon.
”Ranti,” jelas Mamah tanpa ditanya.
Meti berubah. Mengganti nada bicara yang sudah di ujung lidahnya. Tadi, dia sangat berharap, semoga saja yang meneleponnya … Ronnie!
”Meti, bisa bantu kami nggak, buat ngurusin diskusi khusus bulan ini? Kebetulan kami lagi kekurangan orang di kepanitiaan, nih!” kata Ranti setelah berucap salam.
”Kapan?”
”Tanggal empat belas, dari asar sampai ba’da magrib.”
Tanggal empat belas? Pesta Valentinan gengnya.
”Bisa, ya? Soalnya kami benar-benar butuh orang. Diskusi kali ini rada spesial, pembicaranya saja Ustad Zakaria yang ngetop itu,” pinta Ranti penuh harap.
Meti menggaruk kepalanya. ”Aku nggak yakin, sih, tapi nanti aku usahain!”
Malas, Meti menutup teleponnya. Ke musala atau gabung dengan teman-temannya, ya? Kalau gabung dengan Pupuy cs bisa-bisa dia dicengin habis, jika hadir tanpa pasangan. Biarpun mereka membolehkan datang dengan saudara, tapi malu, dong, sementara mereka semua dengan pangeran masing-masing. Jangan-jangan dikira nggak laku!
***
Ini hari termemuakkan bagi Meti, sebenarnya. Hari-hari yang panjang telah dia lewati dengan penuh kecemasan dan kebimbangan. Ronnie tidak pernah bercakap dengannya kecuali saat praktikum biologi di lab. Sedikitpun tak ada harapan baginya. Segalanya terasa gelap.
Ah! Meti nyaris tak percaya melihat daftar surat yang ada di inbox-nya. Ya, internet obat stres paling mujarab untuk Meti. Dia bisa bermain ke mana saja dia suka.
Ronnie Alam Bhuana. Meti mengucek matanya. Nggak salah? Segera dibukanya surat berisi bom waktu yang siap meledakkan dadanya itu.
Singkat. Pendek saja isinya.
Tell me whom you love and
I will tell you who you are
Will you be my valentine?
Ronnie
Napas Meti memburu. Tidak salahkan penglihatannya? Pangerannya telah datang di saat-saat kritis hampir menjelang. Sesaat jemarinya bergetar. Lupa untuk me-replay surat bersejarah ini. Angannya bermain-main di atas langit-langit kamar. Baju apa yang akan dia kenakan? Memakai lipstikkah? Parfum apa yang cocok? Semuanya berputar dalam kerut merut otaknya. Dan mestikah dia mengenakan jilbabnya? Angan Meti terbanting membentur dinding. Ya, bagaimana dengan jilbabnya?
***
Meti berputar sekali lagi di depan cermin. Kulot merah tua, gamis selutut warna pink yang manis dihias renda-renda di ujung lengan dan ujung bawah, juga jilbab mungil warna senada yang dipasang gaya. Bibirnya disapu usapan tipis lipstik merah muda. Meti tampak berbeda. Dia tersenyum. Baru dia sadari kini, sebenarnya dia memiliki sisi kecantikan yang selama ini tersembunyi.
”Duh, yang mau valentinan …!” ledek Mamah ketika Meti keluar dari pintu kamar. Gadis itu tersipu, ”Jangan sampai malam, ya, Met.”
”Oke, deh!” sahut Meti mantap.
Dia menatap jam yang terpasang di dinding. Hampir setengah empat. Ronnie berjanji menjemputnya tepat setengah empat.
”Tuh, kan, Met, meski pakai jilbab kamu tetap bisa tampil gaya dan mengikuti tren,” cetus Mamah yang menjajari Meti. Dulu Mamahlah yang mendorong Meti untuk berjilbab. Katanya, nenek ingin cucu perempuan satu-satunya berkerudung setelah akil baligh. Maklum, kakek dan nenek kan, Haji! Mamah sendiri kalau pergi biasanya berkerudung. Kerudung gaya.
Hampir jam empat. Meti mulai gelisah. Masa, sih, kencan pertama telat. Nggak punya sopan santun.
Telepon berdering. Meti nyaris melompat menyambar gagang telepon warna hitam itu.
”Apa?!” dia nyaris tak percaya.
Wajahnya berubah.
“Baik, nggak apa-apa, kok. Bye!” Meti menutup telepon.
Mamah yang memperhatikan semua itu menatapnya heran.
Meti melangkah gontai ke kamarnya.
”Ada apa, Met?” kejar Mamah.
”Pestanya batal,” sahut Meti ketus.
”Lho?!”
”Ronnie lupa kalau hari ini dia punya acara dengan keluarganya.”
”Kok gitu?”
”Udah, ah, Mah. Meti mau tidur aja,” Meti merajuk. Hatinya hancur berkeping-keping. Yah, ternyata dia memang tidak berharga. Nggak ada orang yang cinta sama dia. Karena dia buruk rupa, karena dia berat badannya empat kilo lebih banyak dari bobot idealnya. Meti memperkuat bendungan air di matanya. Dia tidak mau menangis di depan Mamah.
Meti meremas-remas Shiba hingga bulu-bulunya berantakan. Tak peduli baru di-laundry dua hari lalu. Air matanya berlelehan membasahi pipinya yang tersapu bedak. Bayang daun-daun palem di luar jendela melindunginya dari sinar hangat matahari sore.
Menit demi menit berlalu. Tiba-tiba dia teringat sesuatu. Diliriknya weker di atas meja sekilas. Tergesa, disambarnya tas di sampingnya. Setengah berlari dia melintasi ruang tengah.
”Mau ke mana, Met?” tanya Mamah yang tengah membaca di sofa.
Meti tidak melihatnya, ”Valentinan!” sahutnya.
”Katanya tadi?” Mamah mengernyitkan keningnya.
”Di musala sekolah ada diskusi tentang valentine, Mah,” jelas Meti,”Daripada di rumah, bete.”
Mungkin diskusi telah dimulai, tapi terlambat sedikit tidak apa-apa daripada tidak sama sekali. Meti membuka pintu taksi dengan hati lapang. Ke mana dia selama ini, ya Allah? Meti tahu, belum sepantasnya dia mencintai manusia sebelum dia mampu mencintai Allah dengan seluruh jiwanya. Dia bersyukur Ronnie tak datang. Setidaknya dia masih diingatkan setelah selama ini terbuai dengan kehidupan yang ditawarkan sahabat-sahabatnya.
Lampu merah menghadang laju taksi yang ditumpangi Meti. Jalanan sore tak pernah sepi dari macet. Tiba-tiba Meti tersenyum. Hidup itu seperti jalan raya, harus taat peraturan jika ingin selamat. Coba saja jika lampu merah diterobos, bisa hancur tubuhnya diserbu ratusan mobil yang tengah melintas juga.
Dia ingat Pupuy, Rosa, Lula, yang harus dia tinggalkan. Ya, harus. Namun, suatu saat Meti berjanji akan kembali. Karena, dia mencintai mereka dan dia ingin berbagi dengan mereka tentang makna sebuah cinta yang lebih berharga dari sebatang coklat. Cinta pada Allah. Pada-Nya kita takkan kecewa.
***

Diambil dari buku kumpulan cerita berjudul ”Kidung Kupu-Kupu Putih”.